ULAMA INDONESIA KALIBER DUNIA YANG MENJADI IMAM MASJIDIL HARAM MAKKAH PERTAMAKALI DARI ORANG NON ARAB



Syaikh Ahmad Khotib Al-Minang kabawi (1860 - 1916 )
Subhanallah.... rupanya ada orang Indonesia yang menjadi Imam Besar Di Masjid Haram Makkah, kita bangsa Indonesia merasa bangga dan bersyukur mempunyai syekh seperti  Syekh Ahmad Khotib  Al-minangkabawi ulama berkaliber dunia yang berasal dari Koto Gadang  Bukittinggi Sumatra Barat. Lahir pada tanggal 6 Dzhul Hijjah 1276 H / 26 Juni 1860 M - Wafat di Makkah pada tanggal 8 Jumadil Awal 1334 H / 13 Maret 1916 M.  Beliau ulama besar yang sangat terkenal di Makkah. Semenjak zaman beliau itulah bermulanya pemerintahaan Arab Saudi sangat menaruh hormat kepada bangsa Indonesia ketika Bangsa Indonesia Merdeka Arab Saudi dan Mesir sangat menyambut gembira mendengar Indonesia merdeka. Tapi sayang seribu kali sayang sejarah bangsa Indonesia melupakan ulama sehebat beliau, seharusnya beliau bisa dijadikan motivator contoh bagi para ulama muda Indonesia.
 Syekh Ahmad Khotib  Al-minangkabawi seorang ulama Indonesia yang menjadi imam besar Masjidil Haram Makkah pertama dari orang non Arab sekaligus seorang ulama besar yang terkenal di Makkah yang mempunyai wewenang mengeluarkan Fatwa-fatwa yang dipatuhi oleh ummat islam didunia pada masa zamannya.  Beliau dilantik oleh kerajaan Arab Saudi menjadi Mufti dari Mazhab Imam Syafi`i,  kecerdasannya dalam memecahkan masalah-masalah dibidang ilmu fiqih sangat dikagumi dan disegani oleh ulama-ulama yang berasal dari tanah Arab. Menjadi mufti yang berwewenang mengeluarkan fatwa di Makkah bukanlah orang sembarangan, tentu saja orang yang sangat ahli yang diakui ilmu dan kepandaiannya, mempunyai kelebihan dari ulama yang lainnya. Jangankan di Makkah Arab Saudi, di Indonesia saja yang bisa mengeluarkan fatwa adalah MUI, menjadi anggota MUI Majelis Ulama Indonesia saja tentu bukan sembarang orang yang bisa mengeluarkan fatwa. Selain itu juga Syaikh Ahmad Khotib Al-Minang Kabawi juga sangat menguasai segala bidang ilmu diantaranya :



  • Beliau seorang hafizh Al-Qur`an 30 Juz, Ahmad Khotib waktu kecil mempelajari mabadi’ (dasar-dasar) ilmu agama dari Syaikh ‘Abdul Lathif, sang ayah yang berasal dari Koto Gadang Bukittinggi Sumatra Barat. Dari sang ayah pula, Ahmad kecil menghafal Al Quran dan berhasil menghafalkan 30 juz. Kakeknya bernama ‘Abdullah,  buyut menurut riwayat lain, adalah seorang ulama kenamaan. Oleh masyarakat Koto Gadang, ‘Abdullah ditunjuk sebagai imam dan khathib. Sejak itulah gelar Khatib Nagari melekat dibelakang namanya dan berlanjut ke keturunannya di kemudian hari.
  • menguasai  ilmu Falaq hisab dan ruqyat yang menentukan masuknya bulan Ramadhan dan bulan Syawal yaitu hari raya,
  • Sangat menguasai ilmu Aljabar yaitu ilmu matematika. Kecepatannya dalam menghitung  luar biasa.
  •  Syaikhul  Ahmad Khatib Al-Minang kabawi  juga pakar dalam geometri dan tringonometri yang berfungsi untuk memprediksi dan menentukan arah kiblat, serta berfungsi untuk mengetahui rotasi bumi dan membuat kompas yang berguna saat berlayar. Kajian dalam bidang geometri ini tertuang dalam karyanya yang berjudul Raudat al-Hussab dan Alam al-Hussab.
  •  beliau juga seorang penyair yang Handal... 

Syaikh Ahmad Khotib Minangkabawi banyak melahirkan ulama – ulama besar baik ditanah air maupun dinegara belahan Asia. Bagi ummat Islam yang berada di penjuru dunia yang ingin mendalami ilmu Agama, mereka pergi ke Makkah untuk dapat belajar kepada Syeikh – syeikh yang memiliki ilmu yang tinggi,  maka di Makkah mereka akan bertemu dengan Syaikh Ahmad Khotib Al-Minang Kabawi karna beliau merupakan guru besar di Masjidil Haram.

Syaikh Ahmad Khotib Al-Minang Kabawi adalah Guru besar para ulama Indonesia karna Beliau adalah guru dari KH Hasyim Asy'ari pendiri Nahdatul Ulama (NU), KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah, Sulaiman Ar-Rasuli pendiri Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) dan Persatuan Tarbiah Islamiyah (PERTI).

Murid-murid Syaikh Ahmad Khotib Al-Minang Kabawi  adalah:
Dari Indonesia :
1. Haji Karim Amrullah (1879 M– 1945 M), disebut pula sebagai Haji Rasul ulama besar di Indonesia, dilahirkan di Nagari Sungai Batang, Maninjau dari suku Minang Sumatra Barat.  Merupakan ayah dari  Abdul Malik Karim Amrullah atau yang akrab dipanggil Buya Hamka yang merupaka ulama besar Indonesia yang menjadi ketua  MUI  pertama pada tahun 1975. Buya Hamka Juga yang menjadi imam sholat jenazah SUKARNO presiden pertama Indonesia.
2. K.H. Ahmad Dahlan, lahir di Yogyakarta, ( 1868 – 1923 ) Sang pencerah Pendiri Muhammaddiyah pada tahun 1914 beliau juga adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Ia adalah putera keempat dari tujuh bersaudara dari keluarga KH. Abu Bakar.  KH. Abu Bakar adalah seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta pada masa itu, dan ibu dari KH. Ahmad Dahlan adalah puteri dari H. Ibrahim yang juga menjabat penghulu Kasultanan Yogyakarta pada masa itu.
3. K.H Mohammad Hasyim Asy’arie lahir di Jombang ( 18751947 ) Pendiri Nahdhatul Ulama  ( NU )  pada tahun 1926. dimakamkan di Tebu Ireng, Jombang Jawa Timur. KH Hasyim Asyari adalah putra ketiga dari 11 bersaudara. Ayahnya bernama Kyai Haji Asyari, pemimpin Pesantren yang berada di sebelah selatan Jombang. Ibunya bernama Halimah.
4. Sulaiman Ar-Rasuli  Pendiri Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) dan Persatuan Tarbiah Islamiyah (PERTI)
5. Syaikh Ibrahim Musa Parabek,  Pendiri Pesantren Parabek Bukittinggi Sumatra Barat
6. Syaikh Mustafa Husein  Purba Baru, Mandailing  Sumatra Utara
7. Syaikh Hasan Maksum, dari Medan
8. Ustadz ‘Abdul Halim dari Majalengka pendiri Jam’iyyah I’anatul Mubta’allimin yang bekerja sama dengan Jam’iyyah Khairiyyah dan Al-Irsyad
9. Syaikh ‘Abdurrahman Shiddiq bin Muhammad ‘Afif Al Banjari dari banjar merupakan mufti Kerajaan Indragiri.
10. Muhammad Thaib ‘Umar
11. dll ( Masih banyak lagi yang lain, terlalu banyak untuk disebutkan satu persatu|)

Dari Malaysia :
Ulama Malaysia yang belajar di Mekkah dan ber guru kepada beliau  antara lain adalah :
 - Syeikh Utsman Sarawak (1864 M – 1921 M) Dari Sarawak,
- Tok Kenali (1871 M – 1933 M) dari Kenali.
- Syeikh Wan Ali Abdur Rahman al-Kalantani dari Kelantan,
- Syeikh Muhammad Ismail al-Fathani
- dll

Dari Negara lain juga banyak murid-murid beliau karna pada waktu itu Ahmad Khotib Minang Kabawi diangkat oleh kerajaan Arab Saudi untuk menjadi guru besar  tenaga pengajar di Masjidil Haram, bahkan orang Makkah dan Mesir pun ada ada yang belajar dan berguru kepada beliau.  

Karya-karya Syaikhul Ahmad Khatib Al-Minang Kabawi Rahimahullah dalam bahasab  Arab :
  • Hasyiyah An Nafahat ‘ala Syarhil Waraqat lil Mahalli
  • Al Jawahirun Naqiyyah fil A’malil Jaibiyyah
  • Ad Da’il Masmu’ ‘ala Man Yuwarritsul Ikhwah wa Auladil Akhwan Ma’a Wujudil Ushul wal Furu’
  • Raudhatul Hussab
  • Mu’inul Jaiz fi Tahqiq Ma’nal Jaiz
  • As Suyuf wal Khanajir ‘ala Riqab Man Yad’u lil Kafir
  • Al Qaulul Mufid ‘ala Mathla’is Sa’id
  • An Natijah Al Mardhiyyah fi Tahqiqis Sanah Asy Syamsiyyah wal Qamariyyah
  • Ad Durratul Bahiyyah fi Kaifiyah Zakati Azd Dzurratil Habasyiyyah
  • Fathul Khabir fi Basmalatit Tafsir
  • Al ‘Umad fi Man’il Qashr fi Masafah Jiddah
  • Kasyfur Ran fi Hukmi Wadh’il Yad Ma’a Tathawuliz Zaman
  • Hallul ‘Uqdah fi Tashhihil ‘Umdah
  • Izhhar Zaghalil Kadzibin fi Tasyabbuhihim bish Shadiqin
  • Kasyful ‘Ain fi Istiqlal Kulli Man Qawal Jabhah wal ‘Ain
  • As Saifu Al Battar fi Mahq Kalimati Ba’dhil Aghrar
  • Al Mawa’izh Al Hasanah Liman Yarghab minal ‘Amal Ahsanah
  • Raf’ul Ilbas ‘an Hukmil Anwat Al Muta’amil Biha Bainan Nas
  • Iqna’un Nufus bi Ilhaqil Anwat bi ‘Amalatil Fulus
  • Tanbihul Ghafil bi Suluk Thariqatil Awail fima Yata’allaq bi Thariqah An Naqsyabandiyyah
  • Al Qaulul Mushaddaq bi Ilhaqil Walad bil Muthlaq
  • Tanbihul Anam fir Radd ‘ala Risalah Kaffil ‘Awwam, sebuah kitab bantahan untuk risalah Kafful ‘Awwam fi Khaudh fi Syirkatil Islam karya Ustadz Muhammad Hasyim bin Asy’ari yang melarang kaum muslimin untuk nimbrung di Sarekat Islam (SI)
  • Hasyiyah Fathul Jawwad dalam 5 jilid
  • Fatawa Al Khathib ‘ala Ma Warada ‘Alaih minal Asilah
  • Al Qaulul Hashif fi Tarjamah Ahmad Khathib bin ‘Abdil Lathif
  • Adapun yang berbahasa Melayu adalah:
  • Mu’allimul Hussab fi ‘Ilmil Hisab
  • Ar Riyadh Al Wardiyyah fi Ushulit Tauhid wa Al Fiqh Asy Syafi’i
  • Al Manhajul Masyru’ fil Mawarits
  • Dhaus Siraj Pada Menyatakan Cerita Isra’ dan Mi’raj
  • Shulhul Jama’atain fi Jawaz Ta’addudil Jumu’atain
  • Al Jawahir Al Faridah fil Ajwibah Al Mufidah
  • Fathul Mubin Liman Salaka Thariqil Washilin
  • Al Aqwal Al Wadhihat fi Hukm Man ‘Alaih Qadhaish Shalawat
  • Husnud Difa’ fin Nahy ‘anil Ibtida’
  • Ash Sharim Al Mufri li Wasawis Kulli Kadzib Muftari
  • Maslakur Raghibin fi Thariqah Sayyidil Mursalin
  • Izhhar Zughalil Kadzibin
  • Al Ayat Al Bayyinat fi Raf’il Khurafat
  • Al Jawi fin Nahw
  • Sulamun Nahw
  • Al Khuthathul Mardhiyyah fi Hukm Talaffuzh bin Niyyah
  • Asy Syumus Al Lami’ah fir Rad ‘ala Ahlil Maratib As Sab’ah
  • Sallul Hussam li Qath’i Thuruf Tanbihil Anam
  • Al Bahjah fil A’malil Jaibiyyah
  • Irsyadul Hayara fi Izalah Syubahin Nashara
  • Fatawa Al Khathib dalam versi bahasa Melayu

Tokoh - Tokoh Besar Dalam Sejarah Islam



1. ABU BAKAR AS-SIDDIQ
                  Abu Bakar lahir pada tahun 573 M. dari sebuah kelurga terhormat di Makkah. dua tahun satu bulan setelah kelahiran Rasulullah S.A.W. Nama aslinya adalah Abdullah bin Abu Kuhafah, lalu ia mendapat gelar As-Siddiq setelah masuk Islam. Abu Bakar As-Siddiq adalah sahabat yang terpercaya dan dikagumi oleh Rasulullah S.A.W dan ia adalah pemuda yang pertama menerima seruan Rasulullah masuk islam tanpa banyak pertimbangan. sampai ketika wafatnya Rasulullah S.A.W tidak ada seorangpun yang dinilai lebih baik menjadi khalifah selain Abu Bakar Assidiq. Dalam Pidato pengangkatannya Abu Bakar  As-siddiq mengatakan " Saya bukanlah yang terbaik diantara kalian semua, oleh karena itu saya menghargai kalian. Jika saya menyimpang dari ketentuan Allah dan Rasullnya tegurlah dan jangan taati saya", demikianlah pidato yang di sampaika Abu bakar As-syddiq pada saat pelantikan sebagai khalifah.
2. UMAR BIN KHATAB
                   Umar Bin Khatab adalah khlifah kedua lahir di Kota Makkah, Umar bin Khattab berasal dari Bani Adi, salah satu rumpun suku Quraisy, suku terbesar di kota Mekkah saat itu. Ayahnya bernama Khattab bin Nufail Al Shimh Al Quraisyi dan ibunya Hantamah binti Hasyim, dari Bani Makhzum.[2] 'Umar memiliki julukan yang diberikan oleh Nabi Muhammad yaitu Al-Faruq yang berarti orang yang bisa memisahkan antara kebenaran dan kebatilan. Pada zaman jahiliyah keluarga 'Umar tergolong dalam keluarga kelas menengah, ia bisa membaca dan menulis, yang pada masa itu merupakan sesuatu yang langka.
- Menjadi khalifah
Selama pemerintahan Umar, kekuasaan Islam tumbuh dengan sangat pesat. Islam mengambil alih Mesopotamia dan sebagian Persia dari tangan dinasti Sassanid dari Persia (yang mengakhiri masa kekaisaran sassanid) serta mengambil alih Mesir, Palestina, Syria, Afrika Utara dan Armenia dari kekaisaran Romawi (Byzantium). Saat itu ada dua negara adi daya yaitu Persia dan Romawi. Namun keduanya telah ditaklukkan oleh kekhalifahan Islam dibawah pimpinan Umar.
Sejarah mencatat banyak pertempuran besar yang menjadi awal penaklukan ini. Pada pertempuran Yarmuk, yang terjadi di dekat Damaskus pada tahun 636, 20 ribu pasukan Islam mengalahkan pasukan Romawi yang mencapai 70 ribu dan mengakhiri kekuasaan Romawi di Asia Kecil bagian selatan. Pasukan Islam lainnya dalam jumlah kecil mendapatkan kemenangan atas pasukan Persia dalam jumlah yang lebih besar pada pertempuran Qadisiyyah (th 636), di dekat sungai Eufrat. Pada pertempuran itu, jenderal pasukan Islam yakni Sa`ad bin Abi Waqqas mengalahkan pasukan Sassanid dan berhasil membunuh jenderal Persia yang terkenal, Rustam Farrukhzad.
Pada tahun 637, setelah pengepungan yang lama terhadap Yerusalem, pasukan Islam akhirnya mengambil alih kota tersebut. Umar diberikan kunci untuk memasuki kota oleh pendeta Sophronius dan diundang untuk salat di dalam gereja (Church of the Holy Sepulchre). Umar memilih untuk salat di tempat lain agar tidak membahayakan gereja tersebut. 55 tahun kemudian, Masjid Umar didirikan di tempat ia salat.
Umar melakukan banyak reformasi secara administratif dan mengontrol dari dekat kebijakan publik, termasuk membangun sistem administrasi untuk daerah yang baru ditaklukkan. Ia juga memerintahkan diselenggarakannya sensus di seluruh wilayah kekuasaan Islam. Tahun 638, ia memerintahkan untuk memperluas dan merenovasi Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Medinah. Ia juga memulai proses kodifikasi hukum Islam.
Umar dikenal dari gaya hidupnya yang sederhana, alih-alih mengadopsi gaya hidup dan penampilan para penguasa di zaman itu, ia tetap hidup sangat sederhana.
Pada sekitar tahun ke 17 Hijriah, tahun ke-empat kekhalifahannya, Umar mengeluarkan keputusan bahwa penanggalan Islam hendaknya mulai dihitung saat peristiwa hijrah.

3. UTSMAN BIN `AFFAN
           Utsman adalah khalifah ketiga yang memerintah dari tahun 644 (umur 69–70 tahun) hingga 656 (selama 11–12 tahun). Selain itu sahabat nabi yang satu ini memiliki sifat yang sangat pemalu.
Utsman bin Affan adalah sahabat nabi dan juga khalifah ketiga dalam Khulafaur Rasyidin. ia dikenal sebagai pedagang kaya raya dan ekonomi yang handal namun sangat dermawan. Banyak bantuan ekonomi yang diberikannya kepada umat Islam di awal dakwah Islam. Ia mendapat julukan Dzun Nurain yang berarti yang memiliki dua cahaya. Julukan ini didapat karena Utsman telah menikahi puteri kedua dan ketiga dari Rasullah S.A.W yaitu Ruqayah dan Ummu Kaltsum.
Usman bin Affan lahir pada 574 Masehi dari golongan Bani Umayyah. Nama ibunya adalah Arwa binti Kuriz bin Rabiah. ia masuk Islam atas ajakan Abu Bakar dan termasuk golongan As-Sabiqun al-Awwalun (golongan yang pertama-tama masuk Islam). Rasulullah S.A.W sendiri menggambarkan Utsman bin Affan sebagai pribadi yang paling jujur dan rendah hati di antara kaum muslimin. Diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Aisyah bertanya kepada Rasulullah S.A.W, "Abu Bakar masuk tetapi engkau biasa saja dan tidak memberi perhatian khusus, lalu Umar masuk engkau pun biasa saja dan tidak memberi perhatian khusus. Akan tetapi ketika Utsman masuk engkau terus duduk dan membetulkan pakaian, mengapa?" Rasullullah menjawab, “Apakah aku tidak malu terhadap orang yang malaikat saja malu kepadanya?”
Pada saat seruan hijrah pertama oleh Rasullullah S.A.W ke Habbasyiah karena meningkatnya tekanan kaum Quraisy terhadap umat Islam, Utsman bersama istri dan kaum muslimin lainnya memenuhi seruan tersebut dan hijrah ke Habasyiah hingga tekanan dari kaum Quraisy reda. Tak lama tinggal di Mekah, Utsman mengikuti Nabi Muhammad S.A.W untuk hijrah ke Madinah. Pada peristiwa Hudaibiyah, Utsman dikirim oleh Rasullah untuk menemui Abu Sofyan di Mekkah. Utsman diperintahkan nabi untuk menegaskan bahwa rombongan dari Madinah hanya akan beribadah di Ka'bah, lalu segera kembali ke Madinah, bukan untuk memerangi penduduk Mekkah.
Pada saat Perang Dzatirriqa dan Perang Ghatfahan berkecamuk, dimana Rasullullah S.A.W memimpin perang, Utsman dipercaya menjabat walikota Madinah. Saat Perang Tabuk, Utsman mendermakan 950 ekor unta dan 70 ekor kuda, ditambah 1000 dirham sumbangan pribadi untuk perang Tabuk, nilainya sama dengan sepertiga biaya perang tersebut. Utsman bin Affan juga menunjukkan kedermawanannya tatkala membeli mata air yang bernama Rumah dari seorang lelaki suku Ghifar seharga 35.000 dirham. Mata air itu ia wakafkan untuk kepentingan rakyat umum. Pada masa pemerintahan Abu Bakar, Utsman juga pernah memberikan gandum yang diangkut dengan 1000 unta untuk membantu kaum miskin yang menderita di musim kering.
Setelah wafatnya Umar bin Khattab sebagai khalifah kedua, diadakanlah musyawarah untuk memilih khalifah selanjutnya. Ada enam orang kandidat khalifah yang diusulkan yaitu Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Abdul Rahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqas, Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah. Selanjutnya Abdul Rahman bin Auff, Sa’ad bin Abi Waqas, Zubair bin Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah mengundurkan diri hingga hanya Utsman dan Ali yang tertinggal. Suara masyarakat pada saat itu cenderung memilih Utsman menjadi khalifah ketiga. Maka diangkatlah Utsman yang berumur 70 tahun menjadi khalifah ketiga dan yang tertua, serta yang pertama dipilih dari beberapa calon. Peristiwa ini terjadi pada bulan Muharram 24 H. Utsman menjadi khalifah di saat pemerintah Islam telah betul-betul mapan dan terstruktur.
Ia adalah khalifah kali pertama yang melakukan perluasan Masjid al-Haram Mekkah dan Masjid Nabawi Madinah karena semakin ramai umat Islam yang menjalankan rukun Islam kelima (haji). Ia mencetuskan ide polisi keamanan bagi rakyatnya; membuat bangunan khusus untuk mahkamah dan mengadili perkara yang sebelumnya dilakukan di masjid; membangun pertanian, menaklukan beberapa daerah kecil yang berada disekitar perbatasan seperti Syiria, Afrika Utara, Persia, Khurasan, Palestina, Siprus, Rodhes, dan juga membentuk angkatan laut yang kuat. Jasanya yang paling besar adalah saat mengeluarkan kebijakan untuk mengumpulkan Al-Quran dalam satu mushaf.

4. ALI BIN  ABI THALIB
           Ali dilahirkan di Mekkah, daerah Hejaz, Jazirah Arab, pada tanggal 13 Rajab. Menurut sejarawan, Ali dilahirkan 10 tahun sebelum dimulainya kenabian Muhammad, sekitar tahun 599 Masehi atau 600 (perkiraan). Muslim Syi'ah percaya bahwa Ali dilahirkan di dalam Ka'bah. Usia Ali terhadap Nabi Muhammad masih diperselisihkan hingga kini, sebagian riwayat menyebut berbeda 25 tahun, ada yang berbeda 27 tahun, ada yang 30 tahun bahkan 32 tahun.
Dia bernama asli Assad bin Abu Thalib, bapaknya Assad adalah salah seorang paman dari Muhammad S.A.W. Assad yang berarti Singa adalah harapan keluarga Abu Thalib untuk mempunyai penerus yang dapat menjadi tokoh pemberani dan disegani di antara kalangan Quraisy Mekkah.
Setelah mengetahui anaknya yang baru lahir diberi nama Assad, Ayahnya memanggil dengan Ali yang berarti Tinggi (derajat di sisi Allah)
Ketika Nabi Muhammad S.A.W menerima wahyu, riwayat-riwayat lama seperti Ibnu Ishaq menjelaskan Ali adalah lelaki pertama yang mempercayai wahyu tersebut atau orang ke 2 yang percaya setelah Khadijah istri nabi sendiri. Pada titik ini Ali berusia sekitar 10 tahun.
Pada usia remaja setelah wahyu turun, Ali banyak belajar langsung dari nabi S.A.W karena sebagai anak asuh, berkesempatan selalu dekat dengan nabi hal ini berkelanjutan hingga dia menjadi menantu nabi. Hal inilah yang menjadi bukti bagi sebagian kaum Sufi bahwa ada pelajaran-pelajaran tertentu masalah ruhani (spirituality dalam bahasa Inggris atau kaum Salaf lebih suka menyebut istilah 'Ihsan') atau yang kemudian dikenal dengan istilah Tasawuf yang diajarkan nabi khusus kepada dia tetapi tidak kepada Murid-murid atau Sahabat-sahabat yang lain.
Karena bila ilmu Syari'ah atau hukum-hukum agama Islam baik yang mengatur ibadah maupun kemasyarakatan semua yang diterima nabi harus disampaikan dan diajarkan kepada umatnya, sementara masalah ruhani hanya bisa diberikan kepada orang-orang tertentu dengan kapasitas masing-masing.
Didikan langsung dari nabi kepada Ali dalam semua aspek ilmu Islam baik aspek zhahir (exterior) atau syariah dan bathin (interior) atau tasawuf menggembleng Ali menjadi seorang pemuda yang sangat cerdas, berani dan bijak.
.